Lompat ke konten
Panduan

Permintaan Sewa Properti Thailand Terus Naik: Apa Artinya bagi Investor di 2026?

Permintaan Sewa Properti Thailand Terus Naik: Apa Artinya bagi Investor di 2026?
Photo: Ümit Çetin / Pexels
Ringkasnya

Pasar sewa Thailand sedang mengalami pergeseran struktural yang menguntungkan investor. Yield bruto kondominium di Bangkok mencapai 5-7% per tahun, sementara properti sewa jangka pendek di Phuket bisa menghasilkan 7-10% - angka yang sulit ditandingi pasar properti di banyak negara Asia Tenggara lainnya.

Singkatnya: Berapa Yield yang Bisa Diharapkan Investor?

Kondominium sewaan di Bangkok menghasilkan yield bruto rata-rata 5-7% per tahun untuk sewa jangka panjang. Di Phuket dan Koh Samui, properti sewa jangka pendek berpotensi memberikan 7-10% - meskipun membutuhkan pengelolaan aktif. Permintaan sewa tumbuh karena lonjakan digital nomad, program Long-Term Resident Visa, dan migrasi domestik yang terus berlanjut. Bagi investor Indonesia yang mencari diversifikasi aset di luar negeri, kondisi pasar Thailand saat ini menawarkan salah satu rasio yield-terhadap-risiko terbaik di kawasan Asia Tenggara.


Mengapa Orang Thailand Kini Lebih Memilih Sewa daripada Beli?

Bagi investor Indonesia, memahami sisi permintaan adalah kunci. Harga properti di Bangkok telah naik 40-60% dalam satu dekade terakhir, sementara pertumbuhan pendapatan rumah tangga jauh tertinggal. Generasi usia 25-35 tahun di Thailand kini lebih memilih fleksibilitas mobilitas dan enggan menanggung cicilan KPR selama 20-30 tahun.

Di sisi regulasi, Bank of Thailand memperketat ketentuan rasio pinjaman-terhadap-nilai properti (loan-to-value/LTV), sehingga akses ke pembiayaan rumah semakin terbatas bagi pembeli lokal. Akibatnya, lebih banyak orang yang memilih menyewa - dan ini langsung menguntungkan investor pemegang properti sewaan.

Sebagai gambaran, sewa unit satu kamar tidur di Bangkok kini berkisar 15.000-25.000 THB per bulan - naik sekitar 8-12% dibandingkan setahun lalu. Kawasan metropolitan Bangkok Raya dihuni lebih dari 10 juta jiwa, dan banyak pendatang baru lebih memilih menyewa karena tingginya hambatan untuk memiliki properti.

Siapa Saja Penyewa di Thailand Saat Ini?

Pasar sewa Thailand tidak hanya bergantung pada warga lokal. Ada tiga kelompok penyewa utama yang mendorong permintaan:

  • Digital nomad dan pekerja jarak jauh: Thailand telah menerbitkan lebih dari 300.000 visa DTV (Destination Thailand Visa) sejak program ini diluncurkan. Visa ini dirancang untuk tinggal 1-6 bulan, menciptakan aliran penyewa jangka menengah yang stabil.
  • Ekspatriat korporat: Ekspatriat yang bekerja di perusahaan multinasional di Bangkok umumnya menyewa unit premium di kawasan Sukhumvit, Silom, dan Sathorn.
  • Migran domestik: Perpindahan penduduk dari provinsi ke Bangkok terus berlanjut, mendorong permintaan sewa di segmen menengah.

Menurut Bangkok Post, permintaan apartemen sewaan di seluruh Thailand tumbuh secara konsisten, mencakup semua segmen harga - dari unit entry-level hingga kondominium mewah.

Fakta Kunci Pasar Sewa Thailand 2026

IndikatorData
Yield bruto kondominium Bangkok (sewa jangka panjang)5-7% per tahun
Yield properti sewa jangka pendek Phuket/Samui7-10% per tahun
Tingkat hunian kondominium premium Bangkok (Sukhumvit, Silom, Sathorn)>90%
Pertumbuhan tarif sewa jangka panjang (12+ bulan)8-15% per tahun (tergantung lokasi)
Sewa bulanan kondominium mewah Bangkok (50-80 m2)60.000-120.000 THB
Volume pemesanan sewa jangka pendek Phuket vs. pra-COVID95%
Kenaikan tarif per malam sewa jangka pendek Phuket+20-30%
Harga tanah rata-rata Bang Tao, Phuket~284.000 THB per m2

Sumber: CBRE Thailand, Nation Thailand, Bangkok Post

Di Mana Lokasi Terbaik untuk Investasi Properti Sewaan di Thailand?

Bangkok: Stabilitas dan Hunian Tinggi

Untuk investor yang mengutamakan arus kas stabil sepanjang tahun, kawasan Bangkok sepanjang jalur BTS dan MRT adalah pilihan utama. Distrik Sukhumvit, Phrom Phong, Asok, dan Thonglor secara konsisten mencatat tingkat hunian di atas 90%. Di kawasan ini, nilai unit juga terapresiasi 5-8% per tahun seiring kuatnya permintaan sewa.

Harga masuk untuk unit studio atau satu kamar tidur yang likuid di gedung berposisi baik mulai dari 3-5 juta THB (sekitar $85.000-140.000). Segmen premium dimulai dari 8-10 juta THB.

Phuket: Yield Lebih Tinggi dengan Variasi Musiman

Untuk yield lebih agresif, pesisir barat Phuket - khususnya Bang Tao, Laguna, dan Surin - menjadi pilihan teratas investor internasional. Keterbatasan lahan dan permintaan global menopang pertumbuhan harga di kawasan ini, dengan harga tanah rata-rata di Bang Tao mencapai sekitar 284.000 THB per m2.

Pasar sewa jangka pendek Phuket telah pulih ke 95% dari volume pemesanan sebelum COVID, sementara tarif per malam naik 20-30% dibandingkan periode pra-pandemi.

Hak Hukum Warga Asing: Apa yang Perlu Diketahui?

Salah satu pertanyaan paling sering diajukan investor Indonesia adalah soal legalitas kepemilikan dan hak menyewakan properti di Thailand.

Berdasarkan Undang-Undang Kondominium Thailand, warga asing boleh memiliki hingga 49% dari total unit dalam satu gedung residensial atas dasar freehold - dengan hak kepemilikan penuh, termasuk hak untuk menyewakannya.

Pemilik kondominium asing berhak menyewakan unit mereka secara legal. Namun untuk sewa jangka pendek (di bawah 30 hari), pemilik wajib memiliki Lisensi Hotel sesuai Hotel Act 2004. Mengoperasikan sewa jangka pendek tanpa lisensi ini berisiko terkena denda.

Berapa Biaya Operasional yang Harus Disiapkan?

Sebelum menghitung keuntungan bersih, investor perlu memperhitungkan biaya-biaya berikut:

  • Biaya perawatan area bersama (common area fee): 40-80 THB per m2 per bulan untuk gedung kelas menengah
  • Pajak penghasilan sewa: Individu dikenakan pajak penghasilan progresif 5-35%; melalui perusahaan Thailand, tarif pajak korporat adalah 20%
  • Biaya manajemen properti: 10-30% dari pendapatan sewa - manajemen sewa jangka pendek biasanya di angka tertinggi kisaran ini
  • Asuransi properti, furnitur, dan penggantian peralatan

Secara keseluruhan, total biaya operasional biasanya berkisar 20-35% dari pendapatan sewa bruto.

Catatan penting soal pajak: mulai tahun 2024, Thailand mengenakan pajak atas penghasilan asal luar negeri yang ditransfer ke dalam negeri dalam tahun pajak yang sama. Pendapatan sewa dari properti di Thailand tetap kena pajak Thailand, terlepas dari ke rekening mana pembayaran dikirim. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan konsultan pajak Thailand yang berpengalaman.

Sewa Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Mana Lebih Menguntungkan?

Pertanyaan ini tidak memiliki satu jawaban universal - bergantung pada profil investor.

Sewa jangka pendek menghasilkan yield bruto lebih tinggi, tetapi setelah dipotong komisi platform, biaya manajemen (hingga 30%), dan kekosongan antar tamu, keuntungan bersihnya sering kali mendekati angka sewa jangka panjang. Sewa jangka panjang menawarkan arus kas yang lebih dapat diprediksi dan beban pengelolaan yang jauh lebih ringan - pilihan yang lebih tepat bagi investor yang ingin berinvestasi secara pasif.

Apakah Ini Momen yang Tepat untuk Masuk Pasar?

Pergeseran struktural menuju budaya sewa di Thailand bukan sekadar tren jangka pendek. Ini mencerminkan realitas demografis dan ekonomi Thailand modern: harga properti yang tinggi, populasi muda yang mobile, dan masuknya gelombang baru ekspatriat serta pekerja digital dari seluruh dunia.

Bagi investor Indonesia yang ingin mendiversifikasi portofolio ke properti luar negeri, kombinasi yield kompetitif, kepemilikan freehold yang legal, dan permintaan sewa yang terdokumentasi menjadikan Thailand - khususnya Bangkok dan Phuket - layak untuk dievaluasi serius di 2026.

Tim Properti Thailand siap membantu Anda menganalisis pilihan properti yang sesuai dengan tujuan investasi dan anggaran Anda.

Sumber: Nation Thailand

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa yield sewa properti di Thailand yang bisa didapat investor Indonesia?

Kondominium di Bangkok menghasilkan yield bruto rata-rata 5-7% per tahun untuk sewa jangka panjang. Di destinasi wisata seperti Phuket dan Koh Samui, properti sewa jangka pendek berpotensi menghasilkan 7-10% per tahun, meskipun membutuhkan pengelolaan lebih aktif dan ada risiko variasi musiman.

Apakah warga negara Indonesia boleh memiliki dan menyewakan kondominium di Thailand secara legal?

Ya. Berdasarkan Undang-Undang Kondominium Thailand, warga asing - termasuk WNI - boleh memiliki hingga 49% dari total unit dalam satu gedung secara freehold, dengan hak penuh untuk menyewakannya. Untuk sewa jangka pendek di bawah 30 hari, pemilik wajib memiliki Lisensi Hotel sesuai Hotel Act 2004. Tanpa lisensi tersebut, pemilik berisiko dikenai denda.

Berapa modal minimum untuk membeli kondominium sewaan di Bangkok?

Unit studio atau satu kamar tidur yang likuid di gedung berposisi baik di Bangkok mulai dari 3-5 juta THB (sekitar $85.000-140.000). Segmen premium dimulai dari 8-10 juta THB. Properti dengan kualitas lebih tinggi umumnya mendukung tingkat hunian yang lebih kuat dan konsisten.

Bagaimana sistem pajak penghasilan sewa properti di Thailand untuk pemilik asing?

Pendapatan sewa dari properti di Thailand dikenakan pajak di Thailand, terlepas dari ke rekening mana pembayarannya dikirim. Individu dikenakan pajak penghasilan progresif 5-35%, sedangkan kepemilikan melalui perusahaan Thailand dikenakan tarif pajak korporat 20%. Mulai tahun 2024, Thailand juga mengenakan pajak atas penghasilan luar negeri yang ditransfer masuk dalam tahun pajak yang sama. Konsultasi dengan konsultan pajak Thailand yang terdaftar sangat dianjurkan.